Tampilkan postingan dengan label Perang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Maret 2019

Tolak Berunding Dengan PBB, TNI Kirim 600 Prajurit Untuk Gempur OPM


OPERAIND- Potensi ancaman dari Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) Papua makin meningkat. Beberapa hari lalu, tiga prajurit TNI gugur diberondong peluru pasukan yang biasa dikenal Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu.
Karena itu, untuk mengamankan kondisi di Papua, TNI mengirim 600 pasukan tambahan. Mereka akan ditugaskan untuk menjaga pembangunan jalan Trans Papua dari Wamena sampai Mumugu.


loading...



Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi menjelaskan, pasukan tambahan tiba di Timika pada Sabtu (9/3). Namun, mereka belum bisa digerakkan ke lokasi pembangunan jalan Trans Papua.

”Kita masih melihat pasang surut situasi,” ungkap dia saat diwawancarai Jawa Pos.

Situasi yang dimaksud Aidi adalah menyangkut kondisi cuaca. Dia menyampaikan, pihaknya tidak bisa memaksakan diri mengirim pasukan dengan cuaca di Timika saat ini. Sebab, medan yang mereka lalui berat.

Baca Juga: Prabowo: Jika Saya Terpilih, Saya Bersumpah Akan Bongkar Dalang Kasus 98 

"Rencananya dari Timika pasukan tambahan berjumlah 600 personel dikirim ke Nduga lewat Asmat. Mereka akan lewat sungai sampai Nduga. Setelah itu melalui perjalanan darat ke lokasi pembangunan jalan Trans Papua," terangnya.

Data yang dia miliki menyebutkan ada sekitar 21 jembatan yang harus diawasi oleh prajurit TNI. Semuanya berada di jalan Trans Papua yang membentang dari Wamena sampai Mumugu.

Apabila kondisi cuaca sudah memungkinkan, Aidi mengungkapkan bahwa 600 prajurit itu akan mulai digerakkan Senin (11/3). ”Perjalanan bisa tiga hari,” beber Aidi.

loading...



Lebih lanjut Aidi juga meminta kepada seluruh prajurit tersebut, Kodam XVII/Cendrawasih sudah meminta agar mereka lebih waspada. Mengingat potensi ancaman masih ada. Meski sebagian besar wilayah Nduga sudah dikuasi oleh TNI dan Polri. Namun KKSB masih kerap melancarkan aksi.

Terakhir mereka baku tembak dengan Satgas Penegakan Hukum yang sedang membuka jalan untuk ratusan pasukan tambahan masuk ke Nduga. Dalam baku tembak tersebut, tiga anggota TNI AD gugur.

Sedangkan dari pihak KKSB, Aidi menyebut ada tujuh sampai sepuluh anggota KKSB meninggal dunia. Mengingat potensi ancaman yang masih ada, pasukan tambahan yang sudah berada di Timika di minta ekstra waspada.

Baca juga: Menhan: Jika masih ada Ulama Atau Ustadz Bilang Kafir Saat Ceramah, Silahkan Laporkan

Sementara Juru Bicara TPNPB – OPM Sebby Sambom menuturkan, pernyataan pemerintah Indonesia bahwa ada 10 anggota TPNPB – OPM yang meninggal dunia dan merampas tujuh pucuk senjata tidaklah benar.

Dia mengklaim, senjata yang dipakai TPNPB – OPM justru bertambah empat pucuk. Karena mendapat rampasan dari TNI. ”Itu yang terjadi,” ujar Sebby dalam keterangan tertulisnya.

Menurut dia, perang gerilya yang dilakukan akan terus terjadi. Kecuali, pemerintah Indonesia mau berunding den.. Selanjutnya..

Sumber: JAWA POS

Minggu, 10 Maret 2019

Australia: Dari Sejak Presiden Soekarno Kami Sudah Mendukung Papua Untuk Menjadi Bagian Tetap Sekutu Barat


OPERAIND- Peristiwa pembunuhan terhadap para pekerja proyek pembangunan jembatan di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua Barat pada 2 Desember lalu menjadi sorotan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Komisi Tinggi Hak Asasi PBB (OHCHR) melalui juru bicara Ravina Shamdasani mengatakan kekerasan yang terjadi pekan lalu itu tidak dapat diterima.

Namun dia menuturkan akar masalah di Papua selama ini tidak dipahami dan ditangani dengan baik oleh pemerintah Indonesia.



loading...



"Ada banyak keluhan, dan ini juga banyak terjadi di belahan dunia lain, ketika keluhan tidak ditanggapi atau ada tekanan turun temurun maka orang main hakim sendiri sebab suara mereka tidak didengar," kata dia.

Sebelum kabar peristiwa pembunuhan itu muncul Polrestabes Surabaya sempat mengamankan setidaknya 233 orang pendemo mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Aksi yang menuntut kemerdekaan Papua ini sempat mendapat adangan dari sejumlah organisasi massa (Ormas).

Sementara itu, satu orang warga negara Australia juga turut diamankan.

Namun tidak diketahui secara pasti, apakah pada saat demonstrasi berlangsung Sabtu kemarin, warga Australia yang diketahui bernama Harman Ronda Amy (35) ini, ikut dalam aksi di lapangan. Polisi menangkap Harman dari dalam Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan No 10, Surabaya.

Kepentingan Australia



loading...



Sudah bukan rahasia lagi nama Australia selalu terseret ketika isu Papua mengemuka.
Ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1949, mereka tetap mempertahankan kekuasaan di Papua Barat. Namun Presiden Soekarno kemudian meminta Papua, Irian sebutannya ketika itu, menjadi bagian Indonesia.

Dilansir dari laman Greenleft, awalnya Selandia Baru dan Australia mendukung Belanda untuk tetap bercokol di Papua. Selandia Baru dan Australia melihat Papua sebagai kepentingan strategis untuk mempertahankan kolonialisme sebagai daerah penyangga potensi serangan dari arah Utara. Dengan kata lain mereka ingin Papua tetap menjadi sekutu Barat.

Australia dan Isu Papua

Januari tahun lalu Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne, Australia diterobos masuk oleh pria tak dikenal. Lelaki itu memanjat tembok dan naik ke atap lalu memajang bendera Bintang Kejora khas Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Aksi ters.. Selanjutnya..

Rujukan: https://www.merdeka.com/dunia/campur-tangan-australia-dan-respons-pbb-dalam-isu-papua.html

OPM Minta PBB Ikut Campur dalam Konflik Papua Barat, TNI: Lebih Baik Kita Menjemput Kematian Bersama!


OPERAIND- Organisasi Papua Merdeka atau OPM mendesak PBB agar ikut campur dalam konflik terbaru di distrik Nduga, Papua Barat.

Tentara Pembebasan Papua Barat yang disebut pemerintah Ri sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), membunuh 12 pekerja konstruksi jalan pada penghujung 2018.



loading...



Hal ini disampaikan delegasi OPM ketika menggelar konferensi pers di Port Moresby, Papua Nugini, 31 Februari 2019, yang juga dihadiri perwakilan Tentara Pembebasan Papua, mendeklarasikan perang terhadap pemerintah RI sampai sepakat negosiasi damai, seperti dilaporkan Radio New Zealand, RNZ, dikutip 1 Februari 2019.

Ketua Persatuan Papua Nugini untuk Pembebasan Papua Barat, Kenn Mondiai, mengatakan bahwa masuk akal bagi OPM untuk menggelar konpers di mana mereka bersatu dengan sesama warga Melanesia.

Juru bicara OPM, Jeffrey Bomanak, mengumumkan dukungan resmi OPM untuk deklarasi perang Tentara Pembebasan Papua terhadap RI.

Kelompok ini juga meminta Sekjen PBB untuk mengirim lembaga PBB relevan untuk mengusut konflik di Nduga.

OPM juga meminta Dewan HAM PBB untuk menerapkan pengawasan atas situasi di Papua Barat.

Pada 27 Januari, gerakan separatis Papua Barat menyampaikan petisi dengan 1,8 juta tanda tangan yang meminta referendum kemerdekaan kepada Dewan HAM PBB, seperti dilaporkan Reuters.



loading...



Benny Wenda, ketua Gerakan Pembebasan Bersatu untuk Papua Barat (ULMWP), mengatakan ia berharap PBB akan mengirim misi pencarian fakta ke provinsi itu untuk mendukung dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Swiss, Duta Besar Hasan Kleib mengatakan, pemerintah tetap berkomitmen untuk mengundang Kantor Komisioner Tinggi HAM PBB atau KTHAM yang akan diwakili kantor regionalnya di Bangkok, Thailand untuk berkunjung ke Papua.

"Jadi tidak bisa dikatakan bahwa KTHAM masih menunggu undangan atau meminta akses. Undang sudah disampaikan langsung ketika kunjungan KTHAM sebelumnya, Zeid al Hussein," kata Dubes Kleib kepada wartawan melalui Whatsapp-nya, Rabu, 30 Januari 2019.

Menurut Dubes Kleib, yang belum disepakati adalah waktu untuk KTHAM berkunjung ke Papua. Namun kunjungan KTHAM ke Papua diharapkan pada tahun ini, 2019. Dalam pemberitaan The Guardian, Rabu, 30 Januari 2019, KTHAM Michelle Bachelet mengatakan dirinya telah meminta akses ke Papua.

Padahal pada September 2017, menurut laporan Radio New Zealand yang dikutip Tempo pada 6 Desember 2018, petisi yang juga pernah disampaikan Benny Wenda untuk mengusut pelanggaran HAM dan menempatkan agenda dekolonisasi Papua telah dimentahkan oleh Komite Dekolonisasi PBB.

Komite Dekolonisasi PBB mengatakan bahwa isu Papua Barat berada di luar wewenangnya, yang hanya diberikan ke 17 negara yang diakui oleh PBB sebagai "Non-self Governing Territory". Menurut Piagam PBB, yang dikutip dari situs un.org, Non-Self Governing Territory adalah masyarakat yang belum mencapai syarat penuh untuk membentuk pemerintahan sendiri.

Selain itu, Ketua Komite Dekolonisasi PBB sekaligus Dubes Venezuela untuk PBB, Rafael Ramirez, mengatakan dia tidak menerima dokumen permohonan resmi dan bahwa petisi itu palsu, seperti dilaporkan abc.net.au.

Ketua Dekolonisasi PBB mengatakan komitenya telah dimanipulasi untuk tujuan politik dan menerima kedaulatan Indonesia atas Papua Barat yang memerintah wilayah itu pada 1969

Papua: Enggak Boleh Merdeka Titik

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku penyerahan petisi referendum Papua Barat yang ditandatangani oleh 1,8 juta orang ke Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) bukan sebuah masalah.

Menurut dia, hal itu lantaran petisi tersebut tak mewakili keseluruhan warga Papua Barat.

"Tidak masalah kita lebih banyak kok," ujar Ryamizard di Gedung DPR, Jakarta, Senin (28/1).

Meski tak mempermasalahkan, Ryamizard tetap menekankan tidak boleh ada kelompok yang merdeka di wilayah Indonesia.

Ia berkata pihak yang hendak akan merdeka harus berhadapan terlebih dahulu dengan dirinya selaku penanggungjawab pertahanan negara.

"Begini ya, apapun ngomong segala macem enggak boleh merdeka. Titik. Ya, kalau mereka berhadapan dengan pasti menteri pertahanan dulu dong, menteri pertahanan negara," ucap dia.

Ryamizard juga meminta PBB tidak ikut campur masalah yang terjadi di Indonesia, salah satunya soal separatisme. Sebab, ia menyebut Indonesia tak pernah ikut campur atas masalah negara lain.
Lihat juga:Anggota TNI Tewas Ditembak Kelompok Bersenjata di Nduga

"Saya minta, kita (Indonesia) kan tidak pernah ikut-ikut negara orang. Orang lain jangan ikut-ikut negara sini (Indonesia) dong," ujarnya.

Adapun soal posisi Indonesia sebagai anggota PBB, Ryamizard mengimbau PBB untuk adil. PBB, kata dia, harus menghormati kedaulatan Indonesia di tengah statusnya sebagai anggota PBB.

Keadilan dan penghormatan itu, lanjutnya, agar peristiwa referendum di Timor Timur yang berujung pemisahan diri dari Indonesia tahun 1999 tak terulang kembali.

"PBB kan harus adil. Jangan kayak dulu tuh Timtim enggak adil macem-macem tuh," ujar Ryamizard.

Di sisi lain, Ryamizard menyebut pemerintah membuka peluang negosiasi dengan kelompok separatis the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) selaku pihak yang mengklaim telah menyerahkan petisi itu ke PBB.

Akan tetapi, ia mengingatkan negosiasi dilakukan jika menguntungkan Indonesia. "Negosiasi kalau menguntungkan negeri ini harus. Kalau enggak, ngapain," ujarnya..Selanjutnya

Sumber: TEMPO - CNN   

Jumat, 08 Maret 2019

Jangan Protes!! Panglima TNI: Menghadapi Separatis di Papua Tak Harus Angkat Senjata


OPERAIND-  Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan, dalam menghadapi gerakan separatis di Papua tidak selalu dilakukan melalui operasi pertempuran, namun bisa dilakukan dengan operasi non-tempur.

"Dalam operasi di Papua, kita melaksanakan dua operasi, yakni operasi kinetik (operasi tempur) dan operasi non-kinetik (operasi non-tempur)," kata Hadi Tjahjanto  di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat, 8 Maret 2019.


loading...


Operasi non-tempur, kata Hadi, bisa dilakukan dengan merebut hati rakyat Papua agar tidak melakukan tindakan yang mengancam kedaulatan negara. Misalnya, ketika TNI datang ke suatu wilayah di Papua, masyarakat merasa nyaman dan tenang dengan keberadaan prajurit TNI. "Rasa aman dan nyaman ini akan menjadi virus kepada mereka semua yang memiliki niat untuk memberontak," katanya.

Menurut Panglima, operasi non-tempur ini bisa dilakukan dengan kegiatan bakti sosial, kegiatan kesehatan, penyuluhan pertanian dan lainnya. Namun demikian, TNI tetap menyiapkan operasi kinetik bila langkah itu memang benar-benar diperlukan.

Hadi tidak membantah jiksa saat ini masih muncul gangguan-gangguan kecil dalam upaya pembangunan infrastruktur di Papua. Untuk itu TNI memiliki kewajiban membantu mengamankan pembangunan Trans-Papua.

Upaya yang dilakukan oleh TNI itu tidak terlepas dari kebijakan dan keputusan negara. Selain itu TNI juga memiliki tugas pokok Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) sesuai dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI.


loading...


Infrastruktur yang dibangun di wilayah Papua membutuhkan pengerjaan khusus, sehingga Presiden Joko Widodo meminta TNI untuk membantu proses pembangunan di sana. "TNI memiliki kemampuan untuk mengamankan dan memiliki kemampuan untuk membangun infrastruktur, karena TNI memiliki batalion zeni konstruksi dan zeni tempur," ujar Hadi.

TNI telah kehilangan tiga prajurit yang tengah menjalankan tugas pengamanan pembangunan infrastruktur Trans Papua Wamena-Mumugu pada 7 Maret 2019.  Saat itu TNI diserang oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). "Hal ini sebagai bukti masih ada gangguan di Papua, tapi gangguannya relatif kecil," kata Hadi.

Hingga saat ini TNI bersama kepolisian tengah mengejar kelompok bersenjat tersebut. Namun medan yang berat di Papua membuat tugas TNI dan kepolisian itu tidak mudah. "Kami optimistis TNI dapat menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI," kata Panglima TNI menegaskan.

Kamis, 07 Maret 2019

3 Anggota TNI Gugur Ditembak KKSB Papua, Pangdam: Kita Tak akan Pernah Mundur!


OPERAIND- Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring, menegaskan pihaknya tak akan mundur meski anggotanya gugur ditembak oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB), di Nduga Papua. TNI tetap akan memburu KKSB hingga ke pelosok Papua.

"TNI akan terus mem-back up Polri dalam upaya penegakan hukum terhadap aksi-aksi kelompok bersenjata yang meresahkan masyarakat Papua. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah mundur selangkah pun dalam menghadapi KKSB.


loading...


Meskipun beberapa prajurit TNI-Polri telah gugur dalam tugas, namun kami tetap berkomitmen untuk melindungi warga masyarakat Papua dari teror yang dilakukan KKSB, " tegas Yosua, dalam keterangannya kepada detikcom, Kamis (7/3/2019).

Pangdam Yosua mengatakan bahwa ke-3 prajurit TNI tersebut telah gugur demi menjalankan tugas mulia untuk menegakkan kedaulatan bangsa. Baginya, ketiga prajurit itu ialah pahlawan.

"Mereka adalah pahlawan kusuma bangsa yang telah rela mengorbankan nyawanya demi menghadirkan rasa aman bagi masyarakat Papua," tegasnya.

Namun demikian, Yosua menegaskan TNI tidak akan berhenti untuk mengamankan dan membantu pemerintah untuk membangun kabupaten Nduga.


loading...


Dia dan Kodam XVII/Cenderawasih menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas gugurnya 3 prajurit terbaik bangsa.

"Kejadian ini juga sekaligus membuktikan bahwa kelompok separatis bersenjata lah yang selama ini menjadi beban bagi masyarakat Papua. Mereka tidak segan membunuh aparat dan warga sipil yang tidak mendukung mereka," ucap Yosua.